Dalamkimia organik. Hidrogen sering dipakai untuk reaksi hidrogenasi senyawa alkena atau alkuna untuk sintesis senyawa organic. Senyawa hidrida misalnya MgH2, NaH, LiH dll sering dipakai untuk reagen pereduksi senyawa organic dan hal ini sering dipakai dalam proses sistesis senyawa organic misalnya untuk reduksi senyawa aldehid atau keton .
ArticlePDF AvailableFigures Content may be subject to copyright. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. ©Authors DOI 91 Komunikasi Fisika Indonesia Edisi Juli 2022 Vol. 19 No. 2 Jurusan Fisika FMIPA Univ. Riau Pekanbaru e-2579-521X Web Email kfi SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL OKSIDA BESI MENGGUNAKAN METODE BALL MILLING DAN KOPRESIPITASI Riduan Alvinsen Sirait*, Salomo, Juandi Muhammad, Erman Taer Jurusan Fisika FMIPA Universitas Riau *E-mail korespondensi ABSTRACT This Research has carried out on natural sand originating from the Rokan river, Riau Province by converting it into magnetic iron oxide nanoparticles to determine changes in magnetic properties and particle size. Natural sand samples of the Rokan river were separated between magnetic and non-magnetic particles using an iron sand separator ISS. ISS products are further synthesized using ball milling and coprecipitation methods. 70-hour ball milling products, coprecipitation without ball milling and coprecipitation with 70-hour ball milling are then given NdFeB neodymium iron boron magnets to clean impurities containing non-magnetic elements. The results of this study showed that the highest magnetic acceptability value was obtained in coprecipitation products with ball milling, which was × 10-2. This is because coprecipitation products have an abundant content of chemicals in the form of magnetic elements. Based on the results of chemical composition testing using X-ray flourescence XRF it was found that in coprecipitation products with ball milling there was iron Fe content, while 70-hour ball milling products and coprecipitation without ball milling the percentage of Fe protection was and respectively. Based on the results of the identification of the chemical composition in the sample, coprecipitation products with 70-hour ball milling have high magnetic induction values and magnetic suseptibility caused by the magnetic content in products such as Fe which are very high and non-magnetic content is very low such as Si compared to 70-hour ball milling products and coprecipitation products without ball milling. Keywords Natural River Sand, Ball Milling, Coprecipitation Method, Iron Sand Separator ISS, X-Ray Flourescence XRF, Magnetic Probe Pasco PS-2162. ABSTRAK Telah dilakukan penelitian pada pasir alam yang berasal dari sungai Rokan Provinsi Riau dengan mengubahnya menjadi nanopartikel oksida besi magnetik untuk mengetahui perubahan sifat magnetik dan ukuran partikelnya. Sampel pasir alam sungai Rokan dipisahkan antara partikel magnetik dan non magnetik menggunakan iron sand separator ISS. Produk ISS di selanjutnya disintesis menggunakan metode ball milling dan kopresipitasi. Produk ball milling 70 jam, kopresipitasi tanpa ball milling dan kopresipitasi dengan ball milling70 jam kemudian diberikan magnet NdFeB neodymium iron boron untuk membersihkan bahan pengotor yang mengandung elemen non magnetik. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai suseptibilitas magnetik tertinggi diperoleh pada produk kopresipitasi dengan ball milling yaitu sebesar 12,9 × 10-2. Hal ini disebabkan karena produk kopresipitasi memiliki kandungan bahan kimia berupa elemen magnetik yang melimpah. Berdasarkan hasil pengujian komposisi bahan kimia menggunakan X-ray flourescence XRF ditemukan bahwa pada produk kopresipitasi dengan ball milling terdapat 64,504% kandungan besi Fe, sedangkan produk ball milling 70 jam dan kopresipitasi tanpa ball milling persentase kadungan Fe berturut-turut adalah 15,023% dan 54,152%. Berdasarkan hasil identifikasi komposisi bahan kimia pada sampel, produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam memiliki nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik yang tinggi yang disebabkan oleh kandungan magnetik pada produk seperti Fe yang sangat tinggi dan kandungan non magnetik yang sangat rendah seperti Si dibandingkan produk ball milling 70 jam dan produk kopresipitasi tanpa ball milling. Kata kunci Pasir Alam Sungai, Ball Milling, Metode Kopresipitasi, Iron Sand Separator ISS, X-Ray Flourescence XRF, Probe Magnetic Pasco PS-2162. Diterima 30-06-2022 Disetujui 10-07-2022 Dipublikasi 31-07-2022 Sintesis dan karakterisasi nanopartikel oksida besi menggunakan ... Riduan Alvinsen Sirait PENDAHULUAN Indonesia memiliki potensi bahan magnetik alam yang melimpah, salah satunya yaitu pasir besi. Pasir besi merupakan bahan magnetik alam yang terbentuk akibat adanya erosi batuan pembentuk daratan yang terdiri dari andesit, tufa, aglomerat dan bahan piroklastik lainnya. Penyebaran pasir besi di Indonesia tersebar dibeberapa pulau yaitu Sumatera, Jawa, Sulawesi, Kalimantan dan Papua. Pada pulau Sumatera terdapat sebanyak 29 titik lokasi tersedianya pasir besi di alam dimana 10 titik lokasi memiliki cadangan lebih dari satu juta ton. Pemanfaatan pasir besi di Indonesia saat ini masih belum optimal karena pasir besi hanya digunakan sebagai bahan tambahan pada pembuatan semen [1]. Pasir besi merupakan material yang memiliki kadungan oksida besi magnetik didalamnya yang terdiri dari magnetite Fe3O4, hematite -Fe2O3, dan maghemite -Fe2O3. Kandungan magnetik yang terdapat dalam pasir besi menjadikan pasir besi memiliki aplikasi yang luas diberbagai bidang seperti elektronik, energi, kimia, ferofluida, katalis, diagnosis medisdan lain-lain. Aplikasi pasir besi yang luas tersebut dapat dilakukan dengan pengolahan lebih lanjut terhadap pasir besi. Salah satu pengolahan lebih lanjut terhadap pasir besi yaitu mengubah pasir besi menjadi nanopartikel oksida besi magnetik [2]. Pada bidang industri, oksida besi Fe3O4 dapat digunakan sebagai rekayasa elektronika, sebagai bahan pembuatan magnet permanen dan bahan pembuatan thin film. Sedangkan oksida besi -Fe2O3 dapat digunakan sebagai pembuatan bahan baku katoda pada baterai lithium, sensor gas etanol, maupun superkapasitor. Oksida besi -Fe2O3 juga dapat digunakan sebagai bahan superkapasitor pada elektroda dan sebagai bahan dasar tinta kering pada mesin fotokopi dan printer laser [3]. Ball milling merupakan metode fisika yang digunakan untuk menghasilkan nanomaterial dengan cara mengubah ukuran partikel menjadi lebih kecil. Metode ball milling menggunakan teknologi planetary ball mill sebagai alat dalam proses penghancuran material menjadi sangat halus. Planetary ball mill adalah salah satu metode pengurangan ukuran partikel dengan teknik mechanical alloying powder yang menggunakan energi tumbukan antara bola penghancur dengan bola dinding wadahnya untuk dapat menghasilkan material berukuran nano dalam waktu yang singkat [4]. Pada sintesis nanopartikel dari pasir besi menggunakan metode ball milling, unsur pengotor yang ikut bersama pasir besi yang telah di ball milling dapat dipisahkan dengan menggunakan magnet. Metode kopresipitasi adalah salah satu metode sintesis nanopartikel magnetik yang sederhana. Partikel yang dihasilkan dari metode ini relatif stabil dan sangat sulit larut dalam pelarut [5]. Prinsip kerja yangdimiliki metode kopresipitasi adalah dengan mengubah suatu garam logam menjadi sebuah endapan dengan menambahkan pengendap basa hidroksida yang akan diubah ke bentuk oksidanya dengan melakukan pemanasan [6]. X-ray fluorescence XRF merupakan salah satu uji karakterisasi material yang paling sering digunakan dalam mengidentifikasi komposisi kimia beserta konsentrasi unsur-unsur yang terkandung dalam suatu sampel dengan menggunakan metode spektrometri yang terkandung pada sampel [7]. scanning electron microscope SEM merupakan suatu alat uji berbentuk mikroskop yang menggunakan berkas elektron untuk mengetahui ukuran partikel dan morfologi permukaan dari sampel yang diuji [8]. Dalam penelitian ini akan dibahas pengaruh metode kombinasi yang dilakukan saat proses sintesis nanopartikel oksida besi terhadap nilai induksi magnetik, suseptibilitas magnetik, dan komposisi kimia pada sampel menggunakan karakterisasi XRF. METODE PENELITIAN Alat dan Bahan Alat dan bahan yang akan digunakan pada penelitian ini yaitu pasir alam sungai rokan sebagai sampel penelitian, iron sand separator Komunikasi Fisika Indonesia KFI 192, 2022 ISS sebagai alat pemisah partikel magnetik dan non magnetik, ball milling sebagai alat penghancur sampel, magnet batang NdFeB neodymium iron boron sebagai alat pemisah partikel magnetik dengan elemen pengotor, asam klorida HCl sebagai zat pelarut pasir besi, amonium hidroksida NH4OH sebagai zat pembentuk endapan, aquades sebagai larutan pencuci, poly ethylene glycol PEG-6000 sebagai polimer yang mengontrol ukuran partikel dari sampel yang disintesis, kertas saring sebagai bahan untuk menyaring larutan, gelas ukur sebagai alat pengukur volume zat yang digunakan, timbangan digital sebagai alat penimbang bahan yang akan digunakan, magnetic stirrer sebagai alat pengaduk dengan kecepatan tinggi, ultrasonic bath sebagai alat untuk menembakkan gelombang ultrasonik pada sampel, furnace sebagai alat untuk mengeringkan sampel pada suhu yang tinggi, dan XRF sebagai alat karakterisasi untuk mengetahui komposisi kimia pada sampel. Prosedur Penelitian Sampel pasir alam sungai rokan dilakukan proses pemisahan partikel magnetik dengan non magnetik menggunakan ISS dengan kecepatan putaran belt 0,9 cm/s dan frekuensi getar 2 Hz. Proses ISS dilakukan pengulangan sebanyak 3 kali hingga terbentuk produk ISS sebanyak 300 gram. Hasil dari pemisahan menggunakan ISS dinamakan produk ISS. Produk ISS sebanyak 300 gram dibagi menjadi 3 bagian masing-masing 100 gram dan selanjutnya disebut sebagai sampel A, B, dan C. Sampel A dan B masing-masing 100 gram di ball milling selama 70 jam menggunakan bola besi berdiameter 2 cm sebanyak 16 buah dengan kecepatan 200 rpm. Sampel A hasil ball milling selanjutnya disebut produk ball milling 70 jam. sampel B hasil ball milling dan sampel C produk ISS selanjutnya melalui sintesis menggunakan metode kopresipitasi. Sampel B dan C diambil masing-masing sebanyak 10 gram dan dicampurkan dengan HCl 12M sebanyak 20 ml dan kemudian diaduk menggunakan magnetic stirrer selama 60 menit pada suhu 90°C. Larutan B dan C selanjutnya disaring menggunakan kertas saring dan ditambahkan NH4OH 25% sebanyak 25 ml dan didiamkan selama 30 menit hingga terbentuk endapan berwarna hitam pekat. Selanjutnya larutan B dan C yang telah memiliki endapan dicuci menggunakan aquades sebanyak 3 kali hingga pH larutan menjadi netral yaitu pH 7. Endapan yang dicuci selanjutnya ditambahkan PEG-6000 yang dipanaskan pada suhu 100oC dengan perbandingan 51 dan diaduk menggunakan magnetic stirrer. Larutan B dan C yang telah ditambahkan PEG-6000 dimasukkan kedalam ultrasonic bath selama 3 jam pada suhu 50°C. Larutan B dan C yang kental selanjutnya dikeringkan menggunakan furnace pada suhu 400°C selama 3 jam. Sampel B yang telah dikeringkan selanjutnya disebut produk kopresipitasi dengan ball milling dan sampel C disebut produk kopresipitasi tanpa ball milling. Produk ball milling 70 jam, produk kopresipitasi tanpa ball milling dan produk kopresipitasi dengan ball milling dilakukan pengukuran nilai induksi magnetik, perhitungan suseptibilitas magnetik dan karakterisasi menggunakan XRF. HASIL DAN PEMBAHASAN Induksi dan Suseptibilitas Magnetik Pengukuran induksi magnetik dengan solenoid dilakukan menggunakan sensor Pasco Probe PS-2162 dihubungkan ke perangkat laptop yang sudah diinstal software data audio. Pengukuran induksi magnetik solenoid terdiri dari pengukuran induksi tanpa inti BO, pengukuran induksi magnetik sampel pasir alam sungai rokan BS, pengukuran induksi magnetik produk ISS BISS, pengukuran induksi magnetik pada produk ball milling 70 jam BBM70, pengukuran induksi magnetik pada produk kopresipitasi tanpa ball milling BKTBM dan pengukuran induksi magnetik pada produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam BKDBM. Pada pengukuran nilai induksi magnetik solenoid dilakukan pemberian arus listrik dengan menggunakan 5 variasi arus listrik yaitu 200 mA, 400 mA, 600 mA, 800 mA, dan 1000 mA. Pengukuran nilai induksi Sintesis dan karakterisasi nanopartikel oksida besi menggunakan ... Riduan Alvinsen Sirait magnetik solenoid menggunakan sensor Pasco Probe PS-2162 yang diletakkan pada jarak tetap sebesar 1 mm dari solenoid. Gambar 1. Grafik hubungan antara arus listrik dengan induksi magnetik BO. Gambar 2. Grafik hubungan arus listrik dengan induksi magnetik BS. Gambar 3. Grafik hubungan antara arus listrik dengan induksi magnetik BISS. Gambar 4. Grafik hubungan antara arus listrik dengan induksi magnetik BBM70. Gambar 5. Grafik hubungan arus listrik dengan induksi magnetik BKTBM. Gambar 6. Grafik hubungan arus listrik dengan induksi magnetik BKDBM. Berdasarkan Gambar 1, 2, 3, 4, 5, dan 6 bahwa nilai induksi magnetik yang diperoleh sebanding dengan nilai arus listrik yang diberikan sebagai fungsinya. Berdasarkan Gambar 1, nilai induksi magnetik BO tertinggi sebesar 11,308 mT. Berdasarkan Gambar 2, nilai induksi magnetik BS tertinggi diperoleh ketika diberikan arus sebesar 1000 mA yaitu sebesar 11,452 mT. Berdasarkan Gambar 3, nilai induksi magnetik BISS tertinggi diperoleh ketika diberikan arus sebesar 1000 mA yaitu sebesar 11,981 mT. Berdasarkan Gambar 4, nilai induksi magnetik BBM70 tertinggi diperoleh ketika diberikan arus sebesar 1000 mA yaitu sebesar 12,964 mT. Berdasarkan Gambar 5, nilai induksi magnetik BKTBM tertinggi diperoleh ketika diberikan arus sebesar 1000 mA yaitu sebesar 13,098 mT. Berdasarkan Gambar 6, nilai induksi magnetik BKDBM tertinggi diperoleh ketika diberikan arus sebesar 1000 mA yaitu sebesar 13,118 mT. Suseptibilitas magnetik m pada setiap sampel dapat dihitung berdasarkan nilai induksi magnetik yang diperoleh. Nilai m dihitung dengan cara induksi magnetik total dengan inti Komunikasi Fisika Indonesia KFI 192, 2022 BT pada setiap sampel dikurangkan dan dibagi dengan induksi magnetik BO. Nilai induksi magnetik BT dan m pada setiap sampel dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Nilai induksi magnetik BT dan suseptibilitas magnetik setiap sampel pada arus 1000 mA. Produk ball milling 70 jam Kopresipitasi tanpa ball milling Kopresipitasi dengan ball milling Data dalam Tabel 1 dapat digambarkan dalam bentuk grafik batang untuk menampilkan perbandingan nilai induksi magnetik BT pada arus 1000 mA masing-masing sampel seperti terlihat pada Gambar 7. Gambar 7. Grafik perbandingan nilai induksi magnetik BT sampel pada arus 1000 mA. Gambar 7 memperlihatkan bahwa sampel kopresipitasi dengan ball milling memiliki nilai induksi magnetik tertinggi dibandingkan sampel lainnya. Nilai induksi magnetik pada sampel kopresipitasi dengan ball milling 70 jam ketika dialiri arus listrik sebesar 1000 mA adalah 13,118 mT. Hal ini disebabkan karena sampel mengalami dua kali proses sintesis yaitu sintesis secara fisika dilakukan dengan menggunakan metode ball milling yaitu dengan memasukkan sampel hasil ISS dengan 16 bola besi berukuran 2 cm kedalam mesin penggiling dan diputar dengan kecepatan 200 rpm selama 70 jam dan secara kimia dilakukan dengan cara mencampurkan sampel dengan bahan-bahan kimia untuk dapat menghasilkan sampel dengan ukuran partikel yang lebih kecil. Hasil sintesis dengan menggunakan ball milling sendiri sudah menghasilkan partikel berukuran kecil dengan nilai induksi magnetik yang cukup tinggi yaitu sebesar 12,964 mT. Pada sampel pasir alam sungai rokan menghasilkan nilai induksi magnetik yang cukup rendah yaitu 11,452 mT. Hal ini disebabkan oleh partikel magnetik yang terdapat pada sampel pasir alam masih sangat besar dan sampel masih tercampur dengan pasir yang tidak mengandung bahan magnetik. Data dalam Tabel 1 diplot kembali dalam bentuk grafik untuk menampilkan perbandingan suseptibilitas magnetik total pada arus 1000 mA masing-masing sampel seperti terlihat pada Gambar 8. Gambar 8. Grafik perbandingan nilai suseptibilitas magnetik setiap sampel pada arus 1000 mA. Berdasarkan Gambar 8 menunjukkan bahwa nilai suseptibilitas magnetik pada sampel pasir alam sangat rendah yaitu 1,27 × 10-2. Dimana nilai tersebut hanya satu per dua belas dari nilai suseptibilitas magnetik pada sampel kopresipitasi dengan ball milling yaitu sampel yang melalui dua metode sintesis ball milling dan kopresipitasi. Hal ini disebabkan karena Sintesis dan karakterisasi nanopartikel oksida besi menggunakan ... Riduan Alvinsen Sirait kandungan magnetik yang terdapat pada sampel pasir alam sungai rokan sangat sedikit sehingga berakibat pada rendahnya nilai induksi magnetik dan berdampak kepada hasil perhitungan nilai suseptibilitas magnetik. Pada sampel hasil ball milling 70 jam, nilai suseptibilitas magnetik yang diperoleh adalah 7,84 × 10-2. Nilai suseptibilitas magnetik produk ball milling 70 jam dapat meningkat sebesar 64,785% jika sampel di sintesis kembali menggunakan metode kopresipitasi. Sedangkan pada produk kopresipitasi tanpa ball milling, nilai suseptibilitas dapat meningkat sebesar 22,689% jika sampel sebelum disintesis menggunakan metode kopresipitasi, sampel terlebih dahulu di ball milling. Tabel 2. Hasil identifikasi komposisi kimia pada produk ball milling 70 jam menggunakan XRF. Komposisi Kimia pada Sampel Karakterisasi menggunakan XRF diperlukan pada penelitian ini untuk dapat mengindentifikasi kandungan bahan kimia yang terkandung pada masing-masing sampel. Hasil identifikasi akan digunakan untuk mengetahui keterkaitan antara kandungan bahan kimia pada sampel terhadap nilai induksi magnetik dan nilai suseptibilitas magnetik. Hasil identifikasi komposisi bahan kimia pada setiap sampel dapat dilihat pada Tabel 2. Berdasarkan data pada Tabel 2 terlihat pada produk ball milling 70 jam terdapat unsur dan senyawa oksida yang beragam. Elemen yang terkandung dalam produk ball milling 70 jam teridentifikasi berupa elemen atau unsur yang mengandung magnetik dan non magnetik. Unsur yang mengandung elemen magnetik antara lain Fe besi, Al aluminium, Ca kalsium, Ti titanium, Ag argentum, K kalium, Mg magnesium dan Mn mangan. Sedangkan unsur yang mengandung elemen non magnetik antara lain Si silikon dan P fosfor. Pada produk hasil ball milling 70 jam, kandungan Si baik pada unsur maupun senyawa oksidanya sangat mendominasi adalah yaitu sebesar 57,894% pada unsur dan 67,177% pada senyawa oksida. Hal ini yang menyebabkan hasil pengukuran nilai induksi magnetik dan perhitungan suseptibilitas magnetik cukup rendah pada produk ball milling 70 jam, karena produk hasil ball milling masih didominasi oleh unsur yang mengandung elemen non magnetik yaitu berupa silikon. Berdasarkan data pada Tabel 3, produk hasil kopresipitasi tanpa ball milling juga mengandung elemen magnetik dan elemen non magnetik didalamnya. Elemen magnetik yang terkandung antara lain Fe, Al, Ca, Ti, Ag, K, dan Mn. Sedangkan elemen yang mengandung elemen non magnetik antara lain Si dan P. Pada Tabel 3 dapat dilihat bahwa elemen-elemen magnetik mendominasi diantaranya seperti Fe sebesar 54,152%, Al sebesar 24,86% dan elemen-elemen magnetik lainnya. Sementara itu, elemen non magnetik hanya terdapat sebesar 1,279% berupa Si dan 1,294% berupa P. Kandungan elemen magnetik yang tinggi pada suatu bahan akan menyebabkan peningkatan nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik pada bahan tersebut. Komunikasi Fisika Indonesia KFI 192, 2022 Hal ini yang menyebabkan nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik pada produk kopresipitasi tanpa ball milling menjadi lebih tinggi dibandingkan produk ball milling 70 jam. Tabel 3. Hasil identifikasi komposisi kimia pada kopresipitasi tanpa ball milling menggunakan XRF. Tabel 4. Identifikasi komposisi kimia pada kopresipitasi dengan ball milling menggunakan XRF. Berdasarkan data pada Tabel 4 terlihat bahwa elemen magnetik kembali mendominasi didalam kandungan produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam. Elemen magnetik pada produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam seperti Fe meningkat jika dibandingkan dengan produk kopresipitasi tanpa ball milling dan produk ball miling 70 jam. Elemen Fe pada produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam meningkat 10,352% jika dibandingkan dengan elemen Fe pada produk kopresipitasi tanpa ball milling dan meningkat pesat sebesar 49,481% jika dibandingkan dengan ball miling 70 jam. Sedangkan pada elemen non magnetik seperti silikon pada produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam mengalami penurunan sebesar 57,495% jika dibandingkan dengan produk ball milling 70 jam sedangkan jika dibandingkan dengan produk kopresipitasi tanpa ball milling, kandungan Si masih mengalami penurunan walaupun sangat kecil yaitu sebesar 0,88% yang berarti produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam akan memiliki sifat kemagnetan yang lebih baik dibandingkan produk ball milling 70 jam maupun produk kopresipitasi tanpa ball milling. Hal ini sejalan dengan diperolehnya nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik pada produk kopresipitasi dengan ball milling yang meningkat pesat jika dibandingkan dengan produk hasil ball milling 70 jam dan meningkat cukup signifikan jika dibandingkan dengan produk kopresipitasi tanpa ball milling. KESIMPULAN Nilai induksi magnetik dipengaruhi oleh arus listrik sebagai fungsinya. Berdasarkan Sintesis dan karakterisasi nanopartikel oksida besi menggunakan ... Riduan Alvinsen Sirait pengukuran nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik saat diberikan arus sebesar 1000 mA pada produk ISS diperoleh sebesar 11,881 mT dan 5,1 × 10-2 sedangkan pada produk hasil ball milling 70 jam diperoleh sebesar 12,194 mT dan 7,8 × 10-2. Berdasarkan pengukuran nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik saat diberikan arus sebesar 1000 mA pada produk ball milling 70 jam diperoleh sebesar 12,194 mT dan 7,8 × 10-2, pada produk kopresipitasi tanpa ball millingdiperoleh sebesar 12,498 mT dan 10,5 × 10-2 serta pada produk kopresipitasi dengan ball milling 70 jam diperoleh sebesar 12,768 mT dan 12,9 × 10-2 dimana arus listrik sebagai fungsi dari nilai induksi magnetik dan suseptibilitas magnetik yang diperoleh. Berdasarkan hasil identifikasi bahan kimia menggunakan XRF, persentase unsur Fe pada setiap produk adalah 15,023% pada produk ball milling 70 jam, 54,152% pada produk kopresipitasi tanpa ball milling dan 64,504% pada produk kopresipitasi dengan ball milling. REFERENSI 1. Nengsih, S. 2018. Potensi nanopartikel magnetit pasir besi Lampanah Aceh Besar melalui studi kajian teknik pengolahan, sintesis dan karakteristik struktur. CIRCUIT Jurnal Ilmiah Pendidikan Teknik Elektro, 21. 2. Purwanto, S., & Dani, M. 2017. Strukturmikro dan Sifat Magnet Pasir Besi Pasca Ultrasonifikasi. Jurnal Sains Materi Indonesia, 191, 14-18. 3. Tebriani, S. 2019. Analisis Vibrating Sample Magnetometer VSM pada Hasil Elektrodeposisi Lapisan Tipis Magnetite Menggunakan Aruscontinue Direct Current. Natural Science Journal, 51, 724-725. 4. Burmeister, C. F., & Kwade, A. 2013. Process engineering with planetary ball mills. Chemical Society Reviews, 4218, 7660-7667. 5. Ningsih, S. K. W. 2016. Sintesis Anorganik. Padang UNP Press. 6. Aygar, G., Kaya, M., Özkan, N., Kocabıyık, S., & Volkan, M. 2015. Preparation of silica coated cobalt ferrite magnetic nanoparticles for the purification of histidine-tagged proteins. Journal of Physics and Chemistry of Solids, 87, 64-71. 7. Malvern, A. 2012. Basic Guide to Particle Characterisation. Malvern Instruments, Ltd. Malvern, UK. 8. Wijayanto, S. O., & Bayuseno, A. P. 2013. Analisis kegagalan material pipa ferrule nickel alloy n06025 pada waste heat boiler akibat suhu tinggi berdasarkan pengujian mikrografi dan kekerasan. Jurnal Teknik Mesin, 14, 33-39. 9. Alisna, S., & Sinuraya, S. 2021. Pemetaan Suseptibilitas Magnetik dan Penentuan Kandungan Logam pada Air Gambut di Kelurahan Tuah Madani Kecamatan Tampan Pekanbaru. Komunikasi Fisika Indonesia, 181, 12-17. 10. Sinuraya, S., Amiruddin, E., Nurrohmah, D., & Wulandari, T. 2021. Analisa Perubahan Suseptibilitas Magnetik dan Komposisi Partikel Pasir Alam Sungai Rokan Sebagai Fungsi Kecepatan Putar Tabung Ball Milling. Komunikasi Fisika Indonesia, 183, 225-229. Artikel ini menggunakan lisensi Creative Commons Attribution International License ResearchGate has not been able to resolve any citations for this nano dan komposisinya yang berkaitan dengan sifat magnetik telah dipelajari dengan High Resolution Transmission Electron Microscope HRTEM, Scanning Electron Microscopy Energy Dispersive Spectroscopy SEM-EDS dan Vibrating Sample Magnetometer VSM pada serbuk pasir besi sebelum dan sesudah ultrasonifikasi. Telah diketahui adanya dua fasa utama Fe3O4 dan FeTiO3 dengan fasa minor Al2O3, MgO dan SiO2 pada sampel tanpa perlakuan berdasarkan pengamatan dengan SEM-EDS. Sedangkan hasil pengamatan dengan HRTEM dapat dikonfirmasi adanya nanograin Fe3O4 dan FeTiO3 dengan diameter sekitar 10 nm pada serbuk pra-ultrasonik. Peningkatan nilai saturasi magnetik Ms = 32,3 emu /gram, 34,5 emu/gram dan 46,4 emu/gr masing-masing untuk cuplikan pra-ultrasonik dan ulrasonifikasi selama 10 menit dan 30 menit, sedangkan medan koersif magnet Hc dari 100,5 Oe menjadi 112,5 ball mills are well known and used for particle size reduction on laboratory and pilot scales for decades while during the last few years the application of planetary ball mills has extended to mechanochemical approaches. Processes inside planetary ball mills are complex and strongly depend on the processed material and synthesis and, thus, the optimum milling conditions have to be assessed for each individual system. The present review focuses on the insight into several parameters like properties of grinding balls, the filling ratio or revolution speed. It gives examples of the aspects of grinding and illustrates some general guidelines to follow for modelling processes in planetary ball mills in terms of refinement, synthesis' yield and contamination from wear. The amount of energy transferred from the milling tools to the powder is significant and hardly measurable for processes in planetary ball mills. Thus numerical simulations based on a discrete-element-method are used to describe the energy transfer to give an adequate description of the process by correlation with experiments. The simulations illustrate the effect of the geometry of planetary ball mills on the energy entry. In addition the imaging of motion patterns inside a planetary ball mill from simulations and video recordings is shown. Sri NengsihResearch on the sand iron potential in generating magnetite nanoparticles in Lampanah Aceh Besar through a study of techniques processing, synthesis methods and structural characteristics has been completed. The method used in this research is qualitative method in the kind of literature study from the data of Banda Aceh ESDM Ministry. The results of this study indicate that iron sand in Lampanah area has a dominant element which contained Fe3O4. The magnetic separation method is used to separate the iron sand from impurities, while the co-precipitation synthesis of one of the methods chosen in generating the magnetite nanoparticles which due to a simple, economical experimental process and low treatment temperature. Through the XRD test, the cubic iron sand magnetite nanoparticles with a 2ï± angle are 35,55o, 57,13o and 62,70o with the hkl [311], [511] and [440], while the TEM and SEM tests showed that the dominant particle shape is round and the distribution is tight. Therefore, controlling the size and shape of iron sand magnetite nanoparticles will provide great potential in the magnetic field of magnetism. The conclusions of this study show that the iron sand located in Aceh Besar has the potential to be a magnetite modified cobalt ferrite CoFe2O4 nanoparticles containing Ni-NTA affinity group were synthesized and used for the separation of histidine tag proteins from the complex matrices through the use of imidazole side chains of histidine molecules. Firstly, CoFe2O4 nanoparticles with a narrow size distribution were prepared in an aqueous solution using the controlled co-precipitation method. In order to obtain small CoFe2O4 agglomerates, oleic acid and sodium chloride were used as dispersants. The CoFe2O4 particles were coated with silica and subsequently the surface of these silica coated particles SiO2-CoFe2O4 was modified by amine NH2 groups in order to add further functional groups on the silica shell. Then, carboxyl -COOH functional groups were added to the SiO2-CoFe2O4 magnetic nanoparticles through the NH2 groups. After that Nα,Nα-Biscarboxymethyl-l-lysine hydrate NTA was attached to carboxyl ends of the structure. Finally, the surface modified nanoparticles were labeled with nickel Ni II ions. Furthermore, the modified SiO2-CoFe2O4 magnetic nanoparticles were utilized as a new system that allows purification of the N-terminal His-tagged recombinant small heat shock protein, Tpv-sHSP Vibrating Sample Magnetometer VSM pada Hasil Elektrodeposisi Lapisan Tipis Magnetite Menggunakan Aruscontinue Direct CurrentS TebrianiTebriani, S. 2019. Analisis Vibrating Sample Magnetometer VSM pada Hasil Elektrodeposisi Lapisan Tipis Magnetite Menggunakan Aruscontinue Direct Current. Natural Science Journal, 51, Guide to Particle CharacterisationA MalvernMalvern, A. 2012. Basic Guide to Particle Characterisation. Malvern Instruments, Ltd. Malvern, kegagalan material pipa ferrule nickel alloy n06025 pada waste heat boiler akibat suhu tinggi berdasarkan pengujian mikrografi dan kekerasanS O WijayantoA P BayusenoWijayanto, S. O., & Bayuseno, A. P. 2013. Analisis kegagalan material pipa ferrule nickel alloy n06025 pada waste heat boiler akibat suhu tinggi berdasarkan pengujian mikrografi dan kekerasan. Jurnal Teknik Mesin, 14, 33-39.
Jeniskapur yang mengandung unsur zat besi dan magnesium. sebelum panen dapat dilakukan penambahan dolomit untuk mengeraskan kulit udang dengan dosis 6 - 7 ppm. Selain dolomit juga dapat menggunakan kapur CaOH dengan dosis 5 - 20 ppm sehari sebelum panen untuk menaikkan pH air hingga 9 agar udang tidak molting. Bahan Kimia dan Pupuk
Mesin penghancur besi YouTube from Bahan kimia penghancur besi adalah senyawa kimia yang digunakan untuk melarutkan dan menghancurkan besi. Bahan kimia ini digunakan dalam berbagai aplikasi industri seperti pemrosesan logam, pengolahan makanan, dan produksi bahan kimia lainnya. Bagaimana Cara Kerja Bahan Kimia Penghancur Besi? Bahan kimia penghancur besi bekerja dengan cara melarutkan permukaan besi dan mengubahnya menjadi senyawa yang mudah dihilangkan. Proses ini disebut reaksi redoks, di mana bahan kimia mengalami oksidasi dan besi mengalami reduksi. Apa Saja Jenis Bahan Kimia Penghancur Besi? Ada beberapa jenis bahan kimia penghancur besi yang umum digunakan, seperti asam sulfat, asam klorida, dan asam nitrat. Selain itu, ada juga bahan kimia non-asam seperti EDTA dan nitrilotriasetat. Apa Saja Keuntungan Menggunakan Bahan Kimia Penghancur Besi? Menggunakan bahan kimia penghancur besi dapat mengurangi waktu dan biaya dalam proses pengolahan logam dan produksi bahan kimia. Selain itu, bahan kimia ini juga dapat membantu menghilangkan karat dan korosi pada permukaan besi. Apakah Bahan Kimia Penghancur Besi Berbahaya? Beberapa jenis bahan kimia penghancur besi dapat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan jika tidak ditangani dengan benar. Oleh karena itu, penting untuk mengikuti petunjuk penggunaan dan keselamatan yang diberikan oleh produsen. Bagaimana Cara Memilih Bahan Kimia Penghancur Besi yang Tepat? Memilih bahan kimia penghancur besi yang tepat tergantung pada jenis besi yang akan dihilangkan, kondisi lingkungan, dan kebutuhan produksi. Penting untuk berkonsultasi dengan ahli kimia atau produsen bahan kimia sebelum memilih produk yang tepat. Bagaimana Cara Menggunakan Bahan Kimia Penghancur Besi? Penggunaan bahan kimia penghancur besi harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan petunjuk penggunaan yang diberikan. Selain itu, peralatan dan perlindungan keselamatan seperti sarung tangan, kacamata, dan masker harus digunakan selama proses penggunaan. Apa Saja Hal yang Harus Diperhatikan Saat Menggunakan Bahan Kimia Penghancur Besi? Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan bahan kimia penghancur besi adalah memastikan ventilasi yang baik, menghindari kontak dengan kulit dan mata, dan membuang limbah dengan benar. Selain itu, bahan kimia harus disimpan dengan aman dan jauh dari jangkauan anak-anak. Apakah Bahan Kimia Penghancur Besi Dapat Didaur Ulang? Beberapa jenis bahan kimia penghancur besi dapat didaur ulang dengan proses yang tepat. Namun, penggunaan bahan kimia yang ramah lingkungan seperti EDTA dan nitrilotriasetat dapat membantu mengurangi limbah kimia dan meminimalkan dampak lingkungan. Bagaimana Cara Membeli Bahan Kimia Penghancur Besi? Bahan kimia penghancur besi dapat dibeli dari toko kimia atau produsen bahan kimia terpercaya. Penting untuk memilih produk yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan produksi. Selain itu, pastikan untuk memperhatikan tanggal kadaluwarsa dan petunjuk penggunaan yang tertera pada produk. Kesimpulan Menggunakan bahan kimia penghancur besi dapat membantu mempercepat proses produksi dan menghilangkan karat serta korosi pada permukaan besi. Namun, penggunaan bahan kimia ini harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai dengan petunjuk penggunaan yang diberikan. Memilih produk yang tepat dan ramah lingkungan juga dapat membantu mengurangi dampak negatif pada kesehatan dan lingkungan.
Wiremeshdigunakan untuk menjadi besi penyangga pada beton precast, u ditch dan juga tutup buis beton; Sebagai bahan penguat pada dak beton ketika membuat rumah tingkat agar mampu menopang beban yang berat; Dapat digunakan sebagai plat di dalam tanah karna dapat mengeraskan tanah sehingga dapat menahan beban berat pada permukaan tanah.
Besi, pada dasarnya adalah material yang memang bersifat keras. Namun terkadang skala kekerasan pada besi masih dianggap kurang jika benda yang menjadi lawannya justru memiliki tingkat keras lebih dari besi tersebut. Nah, hardening adalah salah satu cara untuk meningkatkan skala kekerasan materi pada besi maupun benda metal lainnya. Berikut ini akan kami sharing cara proses hardening dengan bahan material dan alat yang mudah untuk didapatkan dan juga dipraktekkan dirumah Proses Hardening Siapkan meterial yang akan dikeraskan, contoh kebanyakan materi bendanya adalah Mata Bor, Pisau, Pahat maupun benda lain sesuai tujuan awal untuk dikeraskan. Kalau kami biasanya Mata Bor Beton, Pisau dan Pahat, karena dua benda kerja tersebut merupakan pegangan kerja kami sehari-hari Cara Hardening 1. Setelah benda objek disiapkan, panaskan pada area yang akan dikeraskan, contoh mata bor dan pahat maka fokuslah untuk memanaskan pada bagian ujung. Pemanasan menggunakan Api Las maupun Api Gas. Bisa juga menggunakan Bara Arang dengan kipas listrik sebagai media peniup agar panas api stabil 2. Fokus pada titik benda kerja sampai panas merah membara. Waktu yang diperlukan bervariasi, tergantung media pemanasan yang anda gunakan. Contoh kami biasa pakai api gas, waktu yang diperlukan adalah sekitar 20 menit untuk benda kerja menjadi merah membara 3. Celupkan benda kerja yang telah membara tersebut secara cepat kedalam cairan umum untuk hardening seperti ; Oli BekasOli bekas yang mudah didapatkan seperti oli bekas kendaraan bermotor. Oli merupakan zat yang umum digunakan dalam proses hardening. Selain oli dapat pula menggunakan minyak sayur. Minyak dan Oli mendinginkan besi lebih lambat dari air Air GaramAir garam mendinginkan besi lebih lambat daripada air biasa, namun perlu dengan segera dibilas karena air garam membuat besi cepat korosi Air Kelapa/Jeruk NipisBiasa digunakan para empu dalam pembuatan keris untuk tujuan pengerasan dan juga penyepuhan Cairan Kimia Glycol tujuan pencelupan adalah membentuk gelembung partikel yang berfungsi dan bersifat mengeraskan material dari benda kerja tersebut 4. Setelah dingin, bilas dengan air sabun terutama sabun cair lebih baik. Keringkan dengan cara dipanaskan lagi namun tidak berlebihan hanya sampai hangat saja untuk menghilangkan cairan yang masih menempel Dan terakhir silahkan pakai benda kerja tersebut dan rasakan perbedaannya.
Khromdigunakan untuk mengeraskan baja, pembuatan baja tahan karat dan membentuk banyak alloy (logam campuran) yang berguna. Kebanyakan digunakan dalam proses pelapisan logam untuk menghasilkan permukaan logam yang keras dan indah dan juga dapat mencegah korosi. Khrom memberikan warna hijau emerald pada kaca.
Bahanjenis ini pun termasuk dalam bahan kimia tambahan yang baru, dan disebut sebagai "bahan tambahan kimia pengurang air". (SiO2)+Oksida Alumina (Al2O3)+ Oksida besi (Fe2O3), minimum % 70.0 50.0 Sulfur Trioksida (SO3), maksimum % 5.0 5.0 Kada air, maksimum % 3.0 3.0 Bahan pembantu untuk mengeraskan permukaan beton Permukaan beton
PekerjaanAlat Industri Kimia meliputi berbagai jenis kontruksi geometris yang sesuai dengan perintah kerja. Pencapaian mutu hasil kerja terletak kepada pemahaman seseorang terhadap praktik Alat Industri Kimia dan pelaksanaannya di tempat kerja yang meliputi tingkat keterampilan dasar penguasaan alat tangan, tingkat kesulitan produk yang dibuat
. 205 341 368 474 9 339 76 396
bahan kimia untuk mengeraskan besi